SMA PRESTASI PRIMA
SMA PRESTASI PRIMA
Berapa banyak kalori kue Lebaran?
Literasi Kesehatan
Rabu, 25 Mar 2026 - 22.23
Berapa banyak kalori kue Lebaran?

Kalori kue kering berbeda-beda, tergantung jenisnya. Setiap jenis kue menggunakan bahan dan komposisi yang berbeda-beda.Namun, satu hal yang pasti sebagian besar kue Lebaran tinggi lemak, karbohidrat, dan garam. Lemak dan garam berasal dari margarin dan mentega, sedangkan karbohidratnya berasal dari tepung dan gula.Jika makan terlalu banyak,asupan kalori harian Anda bisa berlebih.Berikut daftar kalori berbagai jenis kue kering Lebaran.Kalori nastar nanas:75 kkal per buah, 224 kkal per porsi sebanyak 3 buah.Kalori kastengel:21 kkal per buah, 64 kkal per porsi sebanyak 3 buahKalori putri salju:30 kkal per buah, 60 kkal per porsi sebanyak 2 buah.Kalori lidah kucing:18 kkal per buah, 91 kkal per porsi sebanyak 5 buah.Kaloributter cookies:32 kkal per buah, 160 kkal per porsi sebanyak 5 buah.Kalori semprong:38 kkal per buah, 113 kkal per porsi sebanyak 3 buah.Kalori kue kacang:24 kkal per buah, 76 kkal per porsi sebanyak 3 buah.Nastar merupakan kue lebaran dengan total kalori paling tinggi. Nastar juga termasuk makanan berkalori sedang karena total kalorinya sekitar100 – 399 kkal.Kue kering juga termasuk makanan kalori kosong, artinya makanan ini tinggi kalori, tetapi rendah zat gizi yang diperlukan tubuh.

Sejarah Halal Bi Halal
Literasi Digital
Rabu, 25 Mar 2026 - 22.07
Sejarah Halal Bi Halal

Perayaan Hari Raya Idul Fitri di Indonesia mempunyai ciri khas yang berbeda dengan negara-negara lain, khusunya yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Sebagian besar negara tersebut setelah melaksanakan Shalat Ied di pagi hari praktis tidak ada kegiatan lain, hal ini berbeda dengan tradisi di Indonesia di mana setelah Shalat Ied dilanjutkan dengan silaturahim/berkunjung/sowan ke orang tua, sanak saudara, kerabat dan handai taulan, tetangga dan sahabat-sahabatnya untuk bermaaf-maafan. Belum cukup, tradisi bermaaf-maafan tidak hanya dilaksanakan dalam bentuk kunjung mengunjungi satu dengan lainnya, tetapi ada juga yang dikemas dalam bentuk pertemuan besar di satu tempat yang menghadirkan banyak fihak untuk bertemu dan bermaaf-maafan yang kita kenal dengan istilah halal bi halal. Sejarah halal bI halal ada beberapa versi, sebagai sebuah istilah atau kata, kata halal bi halal sudah dikenal pada tahun 1935, yakni ketika pedagang martabak di Taman Sriwedari, Solo, saat mempromosikan martabaknya menyebutnya "Martabak Halal bin Halal, Halal bin Halal". Hal tersebut dilakukan karena martabak saat itu adalah jenis makanan baru yang belum dikenal, sehingga pedagang martabak (umumnya warga keturunan Hindi) dibantu penduduk lokal yang menjadi pegawainya mempromosikan dengan kata-kata sebagaimana disebut di atas, sehingga kata-kata martabak malabar halal bin hahal mulai populer sejak saat itu.Jadi, kata yang populer saat itu halal bin halal bukan halal bi halal. Sebagai sebuah kegiatan, tradisi halal bi halal sudah dikenal sejak zaman Mangkunegara I, yaitu Pangeran Sambernyawa, Raja Mangkunegara I untuk menghemat waktu dan tenaga dalam menjalankan tradisi bermaaf-maafan saat lebaran, mengadakan kegiatan di istana kerajaan dengan mengundang seluruh punggawa dan prajurit kerajaan untuk saling bermaaf-maafan. Adapun versi lain yang valid yaitu pada tahun 1948, saat Republik ini masih sangat muda, integrasi di dalam negeri belum benar-benar bagus, tetapi konflik antar pimpinan partai politik justru sangat meruncing. Kondisi tersebut memunculkan keprihatinan dari Presiden Soekarno, kemudian beliau berkonsultasi kepada Ulama Nahdlatul Ulama kala itu, K.H. Abdul Wahab Hasbullah untuk mencari jalan keluar dari situasi saat itu.Oleh K.H. Abdul Wahab Hasbullah, disarankan untuk mempertemukan para pimpinan partai politik tersebut disatu meja saat perayaan Hari Idul Fitri untuk saling bermaaf-maafan dan saling halal menghalalkan atas dosa antar mereka, kemudian pada Hari Raya Idul Fitri tahun itu juga dilaksanakan kegiatan tersebut yang diberi nama halal bI halal.Hingga sekarang tradisi halal bi halal sebagai tradisi genuine dari lndonesia masih terus dilestarikan oleh masyarakat Indonesia.

Self-Reward Gen Z 2026: Investasi atau Jebakan Finansial?
Literasi Financial
Jumat, 27 Feb 2026 - 13.17
Self-Reward Gen Z 2026: Investasi atau Jebakan Finansial?

Paradoks Konsumsi di Tengah Lesu EkonomiIndonesia sedang menghadapi paradoks ekonomi: lesunya pasar otomotif berbanding terbalik dengan membeludaknya antrean konser dan kafe viral.Data ASEAN Consumer Sentiment Study (ACSS) 2025 mencatat Gen Z menyumbang lebih dari 50% pengeluaran "pengalaman" meski jumlah responden mereka terbatas.Sebagai guru ekonomi, saya melihat ini bukan sekadar impulsivitas, melainkan mekanisme koping yang saya sebut sebagai "Micro-Joy Investment". Ini adalah upaya mengamankan kebahagiaan dosis kecil saat impian besar-seperti memiliki rumah atau karir stabil-terasa semakin mustahil digapai.

Koleksi Buku

Landing Page
Laut Bercerita

Leila S. Chudori

Landing Page
Cerita Gokil Seputar Puasa

Amanda Ratih P, dkk

Landing Page
Belajar Bersama Oryza Mengenal Zat Gizi

Luthfia Dewi & Addina Rizky F.

Landing Page
Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali: Catatan Pribadi Koesalah Soebagyo Toer

Koesalah Soebagyo Toer

Landing Page
Karakteristik Pancasila sebagai Ideologi Terbuka

Eko Julianto

Landing Page
Kumpulan Cerpen Anak : Payung-payung Impian

Yosep Rustandi

0

Jumlah Koleksi

0

Jumlah Kategori

ic_user@1x

0

Jumlah Member ePustaka

Download Sekarang

AndroidHybrid
Informasi Kegiatan

Landing Page
Oops... Belum terdapat aktivitas untuk bulan ini